Peran Biopestisida dalam Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan
Kesuburan tanah, serangan hama penyakit kini menjadi aspek dalam pertanian yang perlu diperhatikan. Dalam pengolahan lahan, terutama
waktu melakukan budidaya, penggunaan pestisida oleh petani terlalu berlebihan
dan akhirnya berdampak pada kualitas tanah. Seperti yang disampaikan oleh Sharma
(2019) pada dasarnya pestisida bermanfaat dari segi produksi tanaman, tetapi
jika digunakan secara ekstensif dapat berakibat fatal dikarenakan
biomagnifikasi dan sifatnya yang persisten dan juga dapat mencemari udara, air,
tanah dan ekosistem lainnya secara langsung ataupun tidak langsung sehingga
akan berdampak terhadap kesehatan makhluk hidup. Menurut Gomiero, Pimentel, dan
Paoletti (2011) hilangnya kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati yang
disebabkan oleh pengalihan fungsi lahan dan efek gas rumah kaca, serta
permintaan air yang semakin meningkat akibat dari pencemaran lingkungan yang
ditimbulkan oleh penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintesis secara
terus-menerus merupakan persoalan yang paling mendesak apabila berbicara soal
pertanian berkelanjutan.
Menyadari akan efek yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis yang berlebihan dalam pertanian, dikarenakan bahan kimia yang beracun serta membahayakan bagi lingkungan maupun kesehatan manusia setelah mengkonsumsi hasil budidaya. Sehingga diperlukannya ketelitian akan pemilihan bahan pangan yang aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Bahan pangan yang sehat serta bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode pertanian organik. Menurut Soenandar dan Tjahjono (2012), menyatakan bahwa organik bukan hanya merujuk ke pertanian tanpa bahan kimia, tetapi merupakan sistem pertanian ramah lingkungan yang mengutamakan keseimbangan ekosistem. Sistem pertanian organik merupakan teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis.
Biopestisida menjadi salah satu teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung pengembangan pertanian organik. Biopestisida adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari bahan alami yang relatif mudah untuk dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Dengan menggunakan biopestisida dapat menjamin keamanan ekosistem sehingga dapat mendukung perkembangan pertanian yang berkelanjutan karena tidak ada residu yang tertinggal. Kelemahan dari biopestisida yaitu daya kerjanya relatif lambat, tidak dapat membunuh hama sasaran secara langsung, tidak tahan terhadap paparan sinar matahari, serta kurang praktis dikarenakan memerlukan beberapa kali penyemprotan. Sedangkan menurut Schumann dan D’Arcy (2012) mendefinisikan biopestisida sebagai senyawa organik dan mikrobia antagonis yang menghambat atau membunuh hama dan penyakit tanaman.
Biopestisida memiliki senyawa organik yang mudah terdegradasi di lingkungan alam. Namun, penggunaan biopestisida ini kurang disukai oleh petani karena efektivitasnya relatif lambat dibandingkan dengan pestisida kimia. Biopestisida lebih cocok untuk digunakan sebagai pencegahan sebelum terjadi serangan hama dan penyakit pada tanaman. Beberapa tanaman yang mengandung senyawa tertentu dapat dimanfaatkan sebagai antimikrobia diantaranya ada tanaman cengkeh, kayu manis, mimba, lengkuas, dan bawang merah. Salah satu biopestisida nabati yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pestisida kimia yaitu dari kayu manis. Menurut Basri (2018) kayu manis ini dapat membunuh larva nyamuk pada konsentrasi 0,22%. Hal tersebut selaras dengan penelitian Idris & Mayura (2019) bahwa kayu manis yang diolah menjadi biopestisida dapat dijadikan untuk menggantikan penggunaan pestisida kimia dalam menanggulangi serangan hama terutama pada bibit mangrove.
Diambil dari jurnal AGRIKAN – Jurnal Agribisnis Perikanan dengan judul “Potensi dan Pemanfaatan Limbah Hasil Tebangan Kayu Manis sebagai Biopestisida” tahun 2022, langkah awal diperlukan persiapan dengan mengumpulkan daun kayu manis yang berkualitas baik kemudian dicuci bersih dan dikeringkan. Setelah kering daun dihaluskan dengan cara diblender dimana daun seberat 200 g ditambahkan air bersih sebanyak 200 ml, lalu dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dibiarkan semalam. Kemudian disaring dan ekstrak daun kayu manis disimpan dalam botol bersih. Larutan biopestisida kayu manis dibuat dengan melarutkan ekstrak daun kayu manis pada aquades. Konsentrasi yang disiapkan adalah 100%, kemudian stok larutan diencerkan sesuai kebutuhan.
Pengaplikasian larutan biopestisida dilakukan pada semai bakau yang menunjukkan gejala serangan hama atau penyakit. Hari pemilihan semai dihitung sebagai hari pertama penanaman. Penyemprotan larutan biopestisida dilakukan pada hari ke-7 setelah penanaman. Setiap penyemprotan dilakukan dengan konsentrasi 50:50 yaitu 500 ml larutan biopestisida dengan 500 ml air aquades. Hasil pengamatan terhadap intensitas serangan hama Amatissa sp pada bibit bakau, setelah dilakukannya analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan biopestisida secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata, namun perlakuan utama biopestisida berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan hama. Pengamatan dilakukan dengan menilai kerusakan yang terjadi secara permanen/keseluruhan pada tanaman. Sedangkan kerusakan yang dianggap mutlak seperti terjadinya pembusukan atau bagian tanaman tidak produktif lagi. Perlakuan konsentrasi biopestisida ini meliputi A0 (kontrol), A1 (25%), A2 (50%), dan A3 (75%).
Perlakuan dengan dilakukannya pemberian biopestisida memiliki persentase tanaman sehat lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Pada jurnal ditunjukkan bahwa perlakuan yang memiliki jumlah tanaman sehat lebih banyak terdapat pada perlakuan A3 (konsentrasi biopestisida 75%) diikuti perlakuan A2 (konsentrasi biopestisida 50%). Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa untuk persentase Intensitas Serangan (IS) hama pada semai bakau mengalami penurunan dari data awal 85% serangan dengan kategori berat menjadi 5.30% dengan kategori kerusakan ringan. Pengaplikasian biopetisida kayu manis ke semai bakau sebanyak 36 individu mengalami perkembangan yang signifikan. Kayu manis termasuk efektif digunakan sebagai biopestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman pada bibit bakau. Hasil pengamatan pada tinggi bibit bakau di umur 35 hari menunjukkan bahwa rata-rata tinggi bibit bakau yang diaplikasikan dengan biopestisida nabati pertumbuhannya melebihi bibit bakau yang tidak diaplikasikan dengan biopestisida nabati. Sedangkan untuk pengamatan pada jumlah helai daun di minggu ke-5 rata-rata pertambahan jumlah helai daun sebanyak satu helai daun. Hasil pengamatan juga menunjukkan setelah diaplikasikan biopestisida, daun baru yang muncul lebih sehat dan segar serta bebas lubang-lubang kecil seperti penampakan sebelumnya.
Referensi
Gomiero,
T., Pimentel, D., and Paoletti, M.G. 2011. Is there a need for a more
sustainable agriculture. Critical Reviews in Plant Sciences, 30(1): 6 –
23.
Idris
H, Nurmansyah. 2017. Pestisida nabati kayu manis dan serai wangi untuk
pengendalian hama penggulung daun nilam Pachyzancla stutalis. Buletin
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 28 (2): 163 – 170.
Salatohy,
A., dan Firlawani, L. B. 2022. Potensi dan Pemanfaatan Limbah Hasil Tebangan
Kayu Manis sebagai Biopestisida. AGRIKAN – Jurnal Agribisnis Perikanan,
15(2): 413 – 418.
Schumann,
G. L. and Gleora, J.D’Arcy. 2012. Hungry planet, stories of plant. The American
Phytopathological Society. St Paul, Minnesota, USA. 294 p.
Sharma, A. 2019. Worldwide pesticide usage and its impacts on ecosystem. SN Applied Sciences, 1(11): 1 – 16.
Soenandar dan Tjahjono. 2012. Membuat Pestisida Organik. PT AgroMedia Pustaka: Jakarta.
Nama : Dwike Julia Ajeng Ayuningtyas
NPM : 21025010122
Mata Kuliah : Sistem Pertanian Berkelanjutan
Comments
Post a Comment