Pengelolaan Kesehatan Tanaman Jagung

 

Nama : Dwike Julia Ajeng Ayuningtyas

NPM  : 21025010122

Kelas : C025


Pendahuluan

Jagung merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan karena merupakan sumber karbohidrat dan protein. Selain itu jagung mempunyai potensi sebagai salah satu komoditas pertanian untuk bahan pangan terpenting kedua setelah beras dan merupakan bahan pakan ternak serta bahan baku industry. Kebutuhan jagung terus meningkat sejalan dengan peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat dan kemajuan industry pakan ternak, sehingga perlu adanya upaya peningkatan produksi dari sumber daya manusia, ketersediaan lahan maupun potensi hasil dan teknologi.

Untuk memenuhi kebutuhan jagung yang terus meningkat, maka upaya peningkatan produksi jagung perlu mendapat perhatian yang lebih agar terwujud swasembada jagung. Peningkatan produksi dan produktivitas dipengaruhi oleh factor iklim, kesuburan tanah, penggunaan benih unggul, tingkat serangan hama dan penyakit, penggunaan pupuk dan penggunaan pestisida. Sedangkan dari segi ekonomi dipengaruhi oleh sarana produksi pertanian, keterampilan dan pengalaman berusahatani petani (Andjani et al., 2010).


Pembahasan

  Budidaya Tanaman Jagung

Pengelolaan Tanaman dan sumberdaya Terpadu (PTT) merupakan pendekatan dalam budidaya yang mengutamakan pengelolaan tanaman, lahan, air, dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara sinergis dan bersifat spesifik lokasi (Zubachtirodin et al., 2009). Pengembangan PTT perlu memperharikan kondisi sumber daya setempat, sehingga teknologi yang diterapkan di suatu lokasi dapat berbeda dengan lokasi lain. Tanaman jagung tumbuh di dataran rendah antara 50 – 450 mdpl, pH optimal untuk tanaman jagung itu sendiri yaitu ph 5,6 – 7,5 dan suhu optimum yang cocok untuk tanaman jagung 23°C - 30°C, dengan kelembaban serta penyinaran yang cukup untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal.

Komponen teknologi yang digunakan yaitu :

1.      Persiapan lahan. Lahan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam budidaya tanaman jagung. Persiapan lahan dilakukan dengan cara membalik tanah atau membajak tanah untuk memperbaiki aerasi. Kemudian pembentukan bedengan. Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air bila kelebihan dan sebagian saluran pengairan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Lebar parit/saluran 25 – 30 cm dengan kedalaman 20 cm, dan panjang parit tergantung pada petakan. Bisa juga ditambah jerami padi sisa panen digunakan sebagia mulsa yang dihamparkan diantara barisan tanaman.

2.      Benih, benih yang digunakan yaitu diambil dari tanaman tongkol yang baik dan sehat. Biji yang diambil adalah biji dari 2/3 bagian tengah tongkol. Biji-biji yang diambil adalah biji-biji yang sama besar bentuknya dan sehat, daya tumbuh benih 90%, kadar air 12-14%. Beih bebas dari kotoran, tidak rusak, seragam, serta bebas penyakit dan hama.

3.      Jarak tanam. Jarak tanam jagung 75 cm x 25 cm, dengan 2 biji/lubang.

4.      Pupuk kandang. Pupuk kandang digunakan sebagai penutup lubang tanaman diberikan pada saat tanam dengan takaran 50 g lubang.

5.  Pemeliharaan tanaman jagung dapat dilakukan dengan 6 cara yaitu penjarangan atau penyulaman yang dilakukan dengan menyisipkan tanaman mati dan menggantikan tanaman baru. Penyiangan dilakukan dnegan membersihkan tanaman yang mengganggu di sekitar tanaman jagung (gulma), pembumbuhan dilakukan secara bersamaan dengan penyiangan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Selanutnya pemupukan, yang dilakukan 3-4 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk urea, NPK sesuai dengan dosis. Penyiraman dilakukan secukupnya. Sedangkan penyemprotan dilakukan saat tanaman mulai muncul tanda serangan hama dan penyakit.

6.      Panen dan pascapanen jagung dapat dilakukan setelah tanaman jagung berumur 86 – 96 hari setelah tanam atau tergantung varietas yang ditanam. Pemanenan dilakukan dengan cara memutar tongkol dan klobotnya dengan mematahkan tongkol jagung. Sedangkan dalam kegiatan pascapanen jagung meliputi pemisahan tongkol yang bertujuan agar terhindar penularan hama penyakit, menjaga kualitas jagung pipilan, memudahkan penanganan selanjutnya. Pengupasan dilakukan untuk menjaga kadar air di dalam tongkol dapat diturunkan dan kelembaban di area biji tidak mengalami kerusakan karena tumbuhnya cendawan. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air biji, sehingga mikroorganisme tidak bisa hidup, meningkatkan daya simpan biji jagung, pengangkutan lebih ringan, dan meningkatkan nilai ekonomi jagung. Pengeringan bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu secara alami, pengeringan melalui pengasapan, dan pengeringan melalui mesin. Pemipilan dilakukan untuk memisahkan biji dari tongkol. 

            Pemipilan dapat menggunakan tangan atau alat pemipil jagung. Setelah biji terlepas dari tongkol maka biji harus dipisahkan dari kotoran (penyortiran), sehingga tidak menurunkan kualitas jagung. Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, serta kotoran selama petik hingga waktu pemipilan. Pengemasan dilakukan untuk memudahkan penanganan (penyimpanan dan pemindahan), melindungi dari cuaca luar yang merugikan, melindungi dari cendawan atau gangguan hama. Selanjutnya dilakuakn penyimpanan di gudang dengan kriteria gudang dibersihkan, ventilasi gudang harus cukup dan suhu tetap stabil, tempat penyimpanan berlantai dilengkapi lantai palsu dengan tinggi minimal 15 cm, sehingga jagung tidak kontak langsung dengan lantai. hingga pemasaran.

Cash flow pengelolaan tanaman jagung :

1. Biaya persiapan lahan :

    • Sewa lahan (1 tahun untuk 2x tanam) = 0,50 x Rp 8.000.000 = Rp 4.000.000
    • Pengolahan lahan (1 unit x 1 kali x Rp 1.500.000) = Rp 1.500.000
    • Total biaya persiapan lahan = Rp 5.500.000

2. Biaya Penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen :

    • Penanaman (4 orang x 2 hari x Rp. 70.000) = Rp 560.000
    • Penyulaman (1 orang x 1 hari x Rp 70.000) = Rp 70.000
    • Pemupukan (2 orang x 8 hari x Rp 70.000) = Rp 1.120.000
    • Penyemprotan (2 orang x 4 hari x Rp 70.000) = Rp 560.000
    • Penyiangan dan pembumbunan (2 orang x 4 hari x Rp 70.000) = Rp 560.000
    • Pemanenan (5 orang x 2 kali x Rp 70.000) = Rp 700.000
    • Pasca panen (3 orang x 4 hari x Rp 70.000) = Rp 840.000
    • Pemipilan (1 kali x 8000 kg x Rp 200) = Rp 1.600.000
    • Total biaya pemeliharaan, panen dan pasca panen = Rp 6.010.000
    • Benih (20 kg x Rp 75.000) = Rp 1.500.000

3. Biaya sarana produksi

    • Benih (20 kg x Rp 75.000) = Rp 1.500.000
    • Urea (100 kg x 3 kali pemupukan (300 kg) x Rp 1.800) = Rp 540.000
    • SP 36 (50 kg x 1 kali pemupukan (50 kg) x Rp 2.000) = Rp 100.000
    • NPK (100 kg x 2 kali pemupukan (200 kg) x Rp 2.300 = Rp 460.000
    • Herbisida (2 kali penyemprotan x Rp 80.000) = Rp 160.000
    • Insektisida (2 kali penyemprotan x Rp 80.000) = Rp 160.000
    • Total biaya sarana produksi = Rp 2.920.000

1.    Total biaya dalam 1 musim tanam : biaya persiapan lahan + biaya penanaman, pemeliharaan, panen, dan pasca panen + biaya sarana produksi = Rp 5.500.000 + Rp 6.010.000 + Rp 2.920.000= Rp 14.430.000

  1.     . Hasil panen minimal 8000 kg jagung pipil kering
  2.    .. Perkiraan harga jual minimal = Rp 3.500 (jagung pipil kering). Maka pendapatan kotor = 8.000 kg x Rp 3.400 = Rp 27.200.000.
  3.    . Pendapatan bersih per panen = total pendapatan – total biaya = Rp 27.200.000 – Rp 14.430.000 = Rp 12.770.000

2.  Dari contoh cash flow di atas, dapat dilihat bahwa pengelolaan tanaman jagung dapat memberikan keuntungan yang cukup besar. Namun, hal tersebut tergantung pada cuaca, pemeliharaan, serangan hama dan penyakit yang mempengaruhi hasil produksi jagung.

a.      Pengelolaan Kesehatan Tanaman

Pengelolaan Kesehatan tanaman pada jagung dilakukan dengan menerapkan konsep pengendalian hama dan penyakit terpadu. Tujuannya untuk tetap mempertahankan populasi hama dibawah ambang kerusakan ekonomis dengan artian tidak memusnahkan hama tersebut. Tahapan pengelolaan konsep PHT sebagai berikut :

1.      Pengamatan

Pada tahap ini untuk mengetahui intensitas serangan atau kepadatan populasi dari OPT, luas serangan, daerah penyebaran serta factor apa saja yang mempengaruhi perkembangan dari OPT. tentunya dalam tahap pengamatan perlu menentukan hama target agar pengendalian lebih efektif dan tidak mengakibatkan penambahan kerusakan tanaman.

2.      Pengambilan keputusan

Langkah ini dilakukan setelah mendapat analisis dari pengamatan di lapang. Apakah perlu melakukan pengamatan lagi atau mengambil tindakan pengendalian.

3.      Tindakan pengendalian

Tindakan ini dilakukan jika populasi atau serangan OPT meningkat dan menimbulkan kerugian secara ekonomis yang tinggi. Teknik pengendalian diantaranya yaitu pengendalian fisik (perlakuan yang dapat dilakukan seperti pembakaran, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, dan pemanasan), pengendalian mekanik (pengambilan dengan tangan, gropyokan, memasang perangkap, pengusiran), pengendalian kultur teknis (cara bercocok tanam seperti melakukan sanitasi, pengelolaan air, pergiliran tanaman, penanaman tanaman perangkap dan lain sebagainya). Syarat pengendalian OPT harus memenuhi aspek teknis :

a)      Memadukan berbagai cara pengendalian yang serasi, selaras, dan seimbang dengan menerapkan prinsip PHT.

b)      Mengutamakan pengendalian dengan Teknik budidaya yang tepat. Misalnya pengendalian secara fisik atau mekanik, biologi atau hayati.

c)      Menggunakan pestisida sebagai opsi terakhir, jika pengendalian fisik/mekanik, biologi, dan hayati sudah tidak bisa lagi digunakan.


Daftar Pustaka

Amelia, Dewi., Dayat., dan Widyastuti, N. 2020. Kapasitas Petani Pada Usahatani Jagung (Zea mays) di Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(3): 187-196.

Andjani, T. K., Djoko Koestiono dan Iman Yushendra. 2010. Analisis Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja Keluarga Petani. AGRISE, 10(1): 65-73.

Azisah, Nur. 2021. Analisa Usahatani Jagung Hibrida. http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/97847/Analisa-Usahatani-Jagung-Hibrida/. Diakses pada 20 Maret 2023.

Fauzi, Amin. 2017. Konsep pengelolaan Kesehatan Tanaman (PKT) Pada Tanaman Jagung (Zea mays). http://1001petaniberdasi.blogspot.com/2017/12/konsep-pengelolaan-kesehatan-tanaman.html. Diakses pada 19 Maret 2023.

Zubachtirodin, Sania Saenong, Mappaganggang S. Pabbage, M. Azrai, Diah Setyorini, Sunendar Kartaatmadja, dan Firdaus Kasim. 2009. Pedoman Umum PTT Jagung. Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.


Comments

Popular posts from this blog

Resume Materi DNA (Struktur dan Replikasi)