Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Kakao
Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan cukup penting bagi perekonomian nasional. Kementan (2019), menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sentra perkebunan kakao, 10 provinsi penghasil kakao terbesar antara lain Sulawesi Tengah (100.702 ton), Sulawesi Selatan (100.567 ton), Sulawesi Tenggara (93.301 ton), Sulawesi Barat (54.710 ton), Sumatera Barat (46.151 ton), Lampung (35.047 ton), Jawa Timur (28.270 ton), Aceh (27.364 ton), Sumatera Utara (24.819 ton), dan Nusa Tenggara Timur (13.125 ton). Namun, peningkatan produksi belum sebanding dengan tingkat produktivitas dan mutu biji yang dihasilkan masih tergolong rendah dilihat dari banyaknya biji kakao yang ditolak pembeli. Salah satu factor yang menyebabkan tingkat produktivitas kakao rendah dikarenakan terdapat serangan hama dan penyakit yaitu serangan hama penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella (Snellen) dan penyakit busuk buah.
Hama PBK adalah hama yang khusus menyerang buah kakao. Hama ini bisa menyerang mulai dari buah muda sampai dengan buah masak. Serangan PBK yang terjadi pada saat buah maish muda akan mengakibatkan kerusakan yang cukup berat, sehingga akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas biji kakao. Gejala serangannya yaitu terdapat belang-belang kuning dan jika buah digoyang tidak berbunyi. Apabila buah dibelah tampak biji kakao saling melengket dan berwarna kehitaman, ukuran biji kecil dan tidak bernas. Menurut Azim dkk (2016), bahwa pada tanaman yang ternaungi dan terlindungi sinar matahari aktivitas imago PBK tinggi, Imago PBK pada siang hari istirahat pada cabang-cabang terlindungi dari sinar matahari, sedangkan penyebarannya dibantu oleh angin. Tinggi dan rendahnya persentase serangan PBK dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti panen tidak rutin, kondisi lahan, terutama keberadaan serasah dan kulit sisa panen. Menurut Sulistyowati dan Wirdyadiputra (2010), sisa daun bekas pangkasan dan kulit buah bekas panen dapat menjadi tempat PBK, sehingga populasi PBK pada kebun yang tidak disanitasi lebih tinggi dibandingkan dengan kebun yang dilakukan sanitasi.
Dalam hal tersebut untuk mengendalikan serangan PBK dapat dilakukan dengan menggunakan organisme hayati yaitu semut hitam untuk menekan populasi hama dengan memangsa telur dan pupa PBK. Jika jumlah semut hitam semakin banyak pada permukaan buah yang terserang PBK, maka akan banyak telur atau pupa yang dimangsa. Pengendalian secara kultur teknis bisa dilakukan dengan memangkas tunas air dan cabang lain secara selektif untuk mengatur kedudukan cabang serta mengurangi kelembaban.
Phytophthora palmivora merupakan jamur patogen yang menyebabkan penyakit busuk buah kakao. Secara umum, patogen ini menyerang bagian tanaman daun, batang, bantalan bunga dan buah. P. palmivora juga menyerang tanaman kakao di berbagai tingkatan umur. Jamur ini sejenis jamur yang dapat mempertahankan hidupnya dalam bentuk miselium dan klamidospora pada bagian tanaman yang terinfeksi atau di dalam tanah sehingga sangat sulit dikendalikan. Di Indonesia P. palmivora merupakan spesies utama yang menyerang semua fase perkembangan buah kakao sehingga selain menyebabkan busuk buah, juga menyebabkan layu Cherelle (Acebo- Guerrero et al., 2012).
Gejala penyakit ini yaitu terdapat infeksi yang terjadi pada buah yang masih pentil hingga buah yang siap petik. Pada permukaan buah terdapat bercak coklat yang kemudian membesar hingga menutupi semua bagian kulit buah terutama saat kondisi lembab. Di permukaan bercak tersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna putih. Faktor yang yang mempengaruhi penyakit tersebut antara lain kelembaban udara, curah hujan, dan cara bercocok tanam. Kelembaban yang tingga bisa membantu meningkatkan infeksi dan pembentukan spora. Untuk mengendalikan penyakit tersebut bisa dilakukan dengan pengendalian secara kultur teknis dengan melakukan sanitasi buah busuk, pemangkasan, pembenaman buah busuk, mengatur jarak tanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat agar sinar matahari bisa masuk ke perkebunan dan menjaga kelembaban udara. Pengendalian secara biota bisa menggunakan minyak cengkeh dan serai wangi yang mampu menurunkan intensitas serangan penyakit busuk buah.
DAFTAR
PUSTAKA
Acebo-Guerrero Y, Hernandez-Rodrigueaz A,
Heydrich-Perez M, El Jaziri M, Hernandez-Lauzardo AN. 2012. Management of black
pod rot in cacao (Theobroma cacao L.): a review. Fruits. 67:41-48.
Azim, S. F., Daisy, S. K., Noni, N. W.,
2016. Kerusakan Biji Kakao Oleh Hama Penggerek Buah Kakao (Conopomorphe
cramerella Snellen) Pada Pertanaman Kakao di Desa Muntoi Dan Solimandungan.
Skripsi. Program Studi Agroekoteknologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan
Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Indrayana, Ketut., & Muhammad, Hatta.
2017. Kajian Pengendalian Hama Penggerek Buah (PBK) Kakao Ramah Lingkungan di
Kabupaten Mamuju. J. agrotan, 3(1):102-114.
Kementerian Pertanian. 2019. Outlook
Kakao.: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementrian Pertanian.
Jakarta.
Sulistyowati E, dan Wiryadiputra, S. 2010.
Hama Utama Kakao dan Pengendalian. Buku pintar Budidaya Kakao. Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Putra, S., Y. Ferry., R. Harni. 2022.
Pengendalian penyakit busuk buah kakao menggunakan Trichoderma viride dan pupuk
Kalium. Jurnal Kultivasi, 21(2):173-180.
Nama : Dwike Julia Ajeng Ayuningtyas
NPM : 21025010122
Kelas : C025
Mata kuliah : Manajemen Organisme Pengganggu Tanaman Terpadu
Comments
Post a Comment